Homepage






 


Nama lengkapnya, ialah Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad, Imam Besar Abu Hamid Al-Ghazali Hujjatul-Islam. Dilahirkan di Thusia, suatu kota di Khurasan dalam Th. 450 H. (1058 M). Ayahnya bekerja membuat pakaian dari bulu (wol) dan menjualnya di pasar Thusia.

Sebelum meninggal ayah Al-Ghazali meninggalkan kata pada seorang ahli tasawwuf temannya, supaya mengasuh dan mendidik A1 Ghazali dan adiknya Ahmad. Setelah meninggal ayahnya, maka hiduplah Al-Ghazali di bawah asuhan ahli tasawwuf itu.

Harta pusaka yang diterimanya adalah sedikit sekali. Ayahnya seorang miskin yang jujur, hidup dari usaha sendiri bertenun kain bulu. Di samping itu, selalu mengunjungi rumah alim ulama, memetik ilmu pengetahuan, berbuat jasa dan memberi bantuan kepada mereka. Apabila mendengar huraian alim ulama itu maka ayah Al-Ghazali menangis tersedu-sedu seraya bermohon kepada Allah swt. kiranya dia dianugerahi seorang putera yang pandai dan berilmu.

Pada masa kecilnya Al-Ghazali mempelajari ilmu fiqih di negerinya sendiri pada Syekh Ahmad bin Muhammad Ar-Razikani. Kemudian pergi ke negeri Juijan dan belajar pada Imam Abi Nasar Al-Ismaili.

Setelah mempelajari beberapa ilmu di negeri tersebut, berang- katlah Al-Ghazali ke negeri Nisapur dan belajar pada Imam Al-Haramain. Di sanalah mulai kelihatan tanda-tanda ketajaman otaknya yang luar biasa dan dapat menguasai beberapa ilmu pengetahuan pokok pada masa itu seperti ilmu mantik (logika), falsafah dan fiqih madzhab Syafi'i. Imam Al-Haramain amat berbesar hati dan selalu mengatakan : "Al-Ghazali itu lautan tak bertepi    

Setelah wafat Imam Al-Haramain, lalu Al-Ghazali berangkat ke Al-Askar mengunjungi Menteri Nizamul-muluk dari pemerintahan dinasti Saljuk. Ia disambut dengan kehormatan sebagai seorang ulama besar. Kemudian dipertemukan dengan para alim ulama dan pemuka-pemuka ilmu pengetahuan. Semuanya mengakui akan ketinggian dan keahlian Al-Ghazali. Menteri Nizamul-muluk melantik Al-Ghazali pada tahun 484 H. menjadi guru besar pada Perguruan Tinggi Nizamiyah yang didirikannya di kota Bagdad. Empat tahun lamanya Al-Ghazali mengajar di Perguruan Nizamiyah dengan cukup mendapat perhatian dari para pelajar, dari dekat dan jauh, sampai datang kepadanya suatu masa, di mana dia menjauhkan diri dari masyarakat ramai.

Maka pada tahun 488 H. Al-Ghazali pergi ke Makkah menunaikan rukun Islam kelima. Setelah selesai mengerjakan Hajji, la terus ke negeri Syam (Siria), mengunjungi Baitul-makdis. Kemudian ke Damaskus dan terus menetap beribadah di masjid Al- Umawi di kota tersebut pada suatu sudut yang terkenal sampai sekarang dengan nama "Al-Ghazaliyah", diambil dari nama yang mulia itu. Pada masa itulah dia mengarang kitab "IHYA ' " yang kami alih-bahasakan ini. Keadaan hidup dan kehidupannya pada saat itu adalah amat sederhana, dengan berpakaian kain kasar, menyedikitkan makan dan minum, mengunjungi masjid-masjid dan desa, melatih diri berbanyak ibadah dan menempuh jalan yang membawanya kepada kerelaan Tuhan Yang Maha Esa.

Kemudian dia kembali ke Bagdad, mengadakan majlis penga- jaran dan menerangkan isi dan maksud dari kitabnya —Ihya'—. Tak lama sesudah itu berangkat pula ke Nisapur dan mengajar sebentar pada Perguruan Nizamiyah Nisapur. Akhirnya, kembali ia ke kampung asalnya Thusia. Maka didirikannya di samping rumahnya sebuah madrasah untuk ulama-ulama fiqih dan sebuah pondok untuk kaum shufi (ahli tasawuf). Dibagikannya waktunya antara membaca Al-Qur'an, mengadakan pertemuan dengan kaum shufi, memberi pelajaran kepada penuntut-penuntut ilmu yang ingin menyauk dari lautan ilmunya, mendirikan shalat dan lain-lain ibadah. Cara hidup yang demikian diteruskannya sampai akhir hayatnya. Dengan mendapat husnul-khatiraah Al-Ghazali meninggal dunia pada hari Senin tanggal 14 Jumadil-akhir tahun 505 H (1111 M) di Thusia.

Janazahnya dikebumikan di makam Ath-Thabiran, berdekatan dengan makam Al-Firdausi, seorang ahli sya'ir yang termasy- hur. Sebelum meninggal Al-Ghazali pernah mengucapkan kata-kata yang diucapkan pula kemudian oleh Francis Bacon seorang filosuf Inggeris, yaitu : "Kuletakkan arwahku dihadapan Allah dan tanam- kanlah jasadku dilipat bumi yang sunyi senyap. Namaku akan bangkit kembali menjadi sebutan dan buah bibir ummat manusia di masa depan".

Ia meninggalkan pusaka yang tak dapat dilupakan oleh ummat muslimin khususnya dan dunia umumnya dengan karangan-karangan yang berjumlah hampir 100 buah banyaknya. Diantaranya kitab "Ihya'" yang terdiri dari empat jilid besar, Dalam dunia Kristen telah lahir pula kemudian Thomas a Kempis (1379 —1471 M) yang mendekati dengan pribadi Al-Ghazali dalam dunia Islam, berhubung dengan karangannya "De Imitation Christi" yang sifatnya mendekati "IHYA' tetapi dipandang dari pendidikan Kristen.

Diantara karangannya yang banyak itu, ada dua buah yang kurang dikenal di negeri kita, akan tetapi sangat terkenal di dunia Barat. MaLah menyebabkan pecah perang pena antara ahli-ahli falsafah. Yaitu kitab "Maqashidul-falasifah" (Maksudnya ahli-ahli falsafah) dan kitab "Tahafutul-falasifah" (Kesesatan ahli-ahli falsafah).

Kitab yang pertama berisi ringkasan dari bermacam-macam ilmu falsafah, mantik, metafisika dan fisika. Kitab ini sudah diterjemah kan oleh Dominicus Gundisalyus ke bahasa Latin di akhir abad ke XII M.

Kitab yang kedua member! kritik yang tajam atas sistem falsafah yang telah diterangkannya satu persatu dalam kitab pertama tadi. Malah oleh Al-Ghazali sendiri menerangkan dalam kitab yang kedua itu, bahwa maksudnya menulis kitab yang pertama tadi ialah mengumpulkan lebih dahulu bahan-bahan untuk para pembaca, yang nantinya akan dikritiknya satu persatu dalam kitab yang kedua.

Beberapa puluh tahun kemudian, maka lahirlah di Andalusia. (Spanyol) Ibnu Rusyd, digelarkan Filosuf Cordova (1126 -1198). Dia membantah akan pendirian Al-Ghazali dalam hal falsafah itu dengan mengarang sebuah kitab yang dinamainya "Tahafutu-tahafutil falasifah" (Kesesatan buku Tahafutul-falasifah Al-Ghazali).

Dalam buku ini, Ibnu Rusyd telah menjelaskan ke salahpahaman Al-Ghazali tentang mengartikan apa yang dinamakan falsafah dan betapa salah pahamnya tentang pokok-pokok pelajaran falsafah.

Demikianlah telah beredar dua buah buku dalam dunia Islam, yang satu menyerang dan menghancurkan falsafah dan yang satu lagi mempertahankan falsafah itu. Keduanya bertempur secara aktif dalam dunia fikiran umat Islam dan menantikan waktunya masing-masing, siapa yang akan menang dan siapa yang akan kalah.

Di samping kemasyhuran dan keagungan yang dipunyai Al-Ghazali, dilontarkannya kitabnya Tahafutul-falasifah ke tengah-tengah ummat manusia dengan gaya bahasa yang hidup bergelora. Sehingga karangan Ibnu Rusyd menjadi lumpuh menghadapi guntur bahasa- nya Al-Ghazali. Maka pada akhimya dalam peperangan alam pikiran ini, Al-Ghazali tampil ke tengah gelanggang sebagai pemenang.

Sebagai filosuf, Al-Ghazali mengikuti aliran falsafah yang boleh dinamakan "madzhab hissiyat" yakni yang kira-kira sama artinya dengan "mazhab perasaan. Sebagaimana filosuf Inggeris David Hume (1711 — 1776) yang mengemukakan bahwa perasaan adalah sebagai alat yang terpenting dalam falsafah, di waktu dia menentang aliran rasionalisme, yakni satu aliran falsafah yang tim- bul di abad ke XYIII,yang semata-mata berdasar kepada pemeriksaan panca indera dan akal manusia.

Al-Ghazali telah mengemukakan pendapat yang demikian, se lama 700 tahim terlebih dahulu dari Dayid Hume. Ia mengakui bahwa perasaan (hissiyat) itu boleh keliru juga akan tetapi akal manusia juga tidak terpelihara dari kekeliruan dan kesesatan. Dan tidak akan dapat mencapai kebenaran sesempurna-sempumanya dengan sendirinya saja. Dan tidak mungkin dapat dibiarkan bergerak dengan semau-maunya saja. Lalu akhimya Al-Ghazali kembali kepada apa yang dinamakannya "dlaruriat" atau aksioma sebagai hakim dari akal dan perasaan dan kepada hidayah yang datang dari Allah swt.

Al-Ghazali tak kurang mengupas falsafah Socrates, Aristoteles dan memperbincangkan pelbagai masalah yang sulit-sulit dengan cara yang halus dan tajam. Tak kurang ia membentangkan ilmu mantik dan menyusun ilmu kalam yang tahan uji dibanding - kan dengan karangan-karangan filosuf yang lain. Semua ini menunjukkan ketajaman otaknya. Disamping itu tidak enggan dia berkata dengan kerendahan hati serta khusu' akan kata-kata "Wallahu a'lam'.' artinya "Allah yang Maha Tahu"

Dalam zaman Al-Ghazali, masih berkobar pertentangan antara ahli tasawwuf dan ahli fiqih. Maka salah satu dari usaha Al-Ghazali ialah merapatkan kedua golongan yang bertentangan itu. 

Baik semasa hidupnya atau sesudah wafatnya, Al-Ghazali mendapat teman sepaham, di samping lawan yang menentang akan pendiriannya. Yang tidak sepaham, di antaranya ialah Ibnu Rusyd, Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim dan lain-lain dari ahli fiqih. Didunia Barat Al-Ghazali mendapat perhatian besar, mendapat penghargaan dari para filosuf. Di antaranya dari Renan, CassanoVa, Carta de Yaux dan Iain-lain.

Seorang ahli ketimuran Inggeris bemama Ds. Zwemmer pernah memasukkan Al-Ghazali menjadi salah seorang dari empat orang pilihan pihak Islam dari mulai zaman Rasulullah saw. sampai kepada zaman kita sekarang, yaitu :

1. Nabi Besar Muhammad صلى الله عليه وسلم. sendiri.
2. Imam-Al-Bukhari, ulama hadist yang terbesar.
3. Imam-Al-Asy 'ari, ulama tauhid yang termasyhur.
4. Imam-Al-Ghazali, pengarang Ihya yang terkenal.


Demikianlah sekelumit dari sejarah hidup ulama besar ini, dengan kita menyebutkan beberapa bidang lagi, di mana Al-Ghazali mempunyai saham yang tidak kecil, seperti bidang pendidikan, da'wah, fiqih dan lain-lain.

Semoga pusaka ilmiyah yang ditinggalkan Al-Ghazali, dapatlah kiranya diambil faedahnya oleh ummat manusia umumnya dan ummat Islam khususnya!.


Aamiin!.

 

BAB PERTAMA BAHAGIAN PERTAMA
 إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ
(Inna fii riftaalika ladzikraa Iiman kaana lahuu qalb).
"Sesungguhnya hal yang demikian itu menjadi pengajaran bagi siapa yang mempunyai hati (pengertian)(S. Qaaf, ayat 37),


بسم الله الرحمٰن الرحيم
أحمده الله أولاً حمداً كثيراً متوالياً، وإن كان يتضاءل دون حق جلاله حمد الحامدين

Pertama-tama, aku memuji Allah, pujian yang banyak, berturut- turut, walaupun amat kecil pujian pemuji-pemuji itu, kurang dari hak keAgunganNya.

Kedua, aku bersalawat dan mengucapkan salam kepada Rasul-rasul- Nya, salawat yang meratai Rasul-rasul yang lain, bersama penghulu ummat manusia.

Ketiga, aku memohonkan kebajikan kepada Allah Ta'ala, tentang membangkitnya cita-citaku, mengarang sebuah kitab, tentang "Menghidupkan Kembali ilmu-ilmu Agama" (Ihya' Ulumiddin).

Keempat, aku menantang, untuk memotong kesombonganmu, hai pencela, yang melampaui batas pada mencela, diantara golongan orang-orang yang ingkar, yang berlebih-lebihan mencaci dan melawan, diantara lapisan orang-orang yang melawan, yang lalai.

Maka sesungguhnya telah terlepas ikatan diam dari lidahku. Telah dikalungkan pada leherku, tanggungan berkata-kata dan kalung mutiara bertutur kata, selama engkau berkekalan buta dari kebenaran yang nyata, serta berkepanjangan menolong yang batil, membaguskan kebodohan dan mengobarkan fitnah kepada orang, yang memilih mencabut diri sedikit dari adat kebiasaan orang banyak. Dan ia cenderung sedikit dari membiasakan diri mengikuti kebiasaan itu, kepada beramal dengan yang dikehendaki oleh ilmu, karena mengharap mencapai apa yang diajak oleh Allah Ta'ala beribadah kepadaNya. Yaitu : membersihkan diri dan membaikkan hati. Dan untuk memperoleh kembali sebahagian apa yang telah dibuang-buangkannya, dari menyia-nyiakan umur, karena putus-asa dari kesempumaan memperoleh kembali dan menampalkannya. Dan tersisih dari kumpulan orang, yang dikatakan terhadap mereka oleh yang empunya syari'at - rahmat Allah dan sejahteraNya kepadanya.

أشد الناس عذابا يوم القيامة عالم لم ينفعه الله سبحانه بعلمه

(Asyaddun naasi 'adzaaban yaumal qiyaamati 'aalimun lam yanfa-hullaahu subhaanahuu bi'ilmih). Artinya :"Manusia yang sangat menderita azab pada hart qiamat, ialah orang yang berilmu (orang alim), yang tidak diberi manfa'at oleh Allah swt. dengan ilmunya". (1 )

Demi umurku, sesungguhnya tiada sebab untuk berkekalannya kamu pada kesombongan, selain oleh penyakit yang meratai orang banyak. Bahkan telah meratai golongan orang-orang yang teledor, dari pada memperhatikan pentingnya persoalan ini. Dan bodoh, bahwa persoalan ini besar. Dan keadaannya itu sungguh- sungguh. Akhirat itu di depan dan dunia itu di belakang. Ajal itu dekat.Perjalanan itu jauh. Perbekalan itu sedikit. Bahaya itu besar. Dan jalan itu tertutup. Selain keikhlasan karena wajah Allah, dari ilmu dan amal, adalah tertolak pada pihak pengecam, yang dapat melihat.

Berjalan ke jalan akhirat serta banyaknya tipu-daya tanpa penunjuk dan teman adalah pay ah dan sukar. Maka penunjuk-penunjuk jalan itu ialah kaum ulama. Mereka adalah pewaris nabi - nabi. Telah kosonglah zaman dari mereka. Tidak ada yang tinggal, kecuali orang-orang yang berbuat resmi-resmian. Kebanyakan telah digoda sethan dan terjerumus ke dalam kesesatan. Masing-masing mereka telah tertarik kepada keuntungan yang dekat. Lalu memandang yang baik menjadi buruk dan yang buruk menjadi baik. Sehingga ilmu agama senantiasa terinjak-injak dan nur hidayah hilang lenyap disegala pelosok bumi.

Orang-orang itu berkhayal kepada orang banyak, bahwa ilmu pengetahuan itu tak lain, dari fatwa pemerintah yang dipakai oleh para kadli (hakim) untuk menyelesaikan persengketaan ketika berkecamuk kezaliman. Atau ilmu pengetahuan itu ialah jidal (perdebatan), yang diperalat oleh orang yang mencari kemegahan untuk memperoleh kemenangan dan keuntungan. Atau ilmu pengetahuan itu ialah sajak yang dihiasi, yang dipergunakan oleh juru-juru nasehat supaya dapat mempengaruhi orang awam. Karena mereka itu, tidak melihat, selain dari yang tiga tadi, tempat memburu yang haram dan menangguk harta kekayaan duniawi.

1.Hadits Ini diriwayatkan Ath-Thabrarani dan AL -Baihaqi dari Abu Hurairah dengan isnad dla'ff.

Adapun ilmu jalan akhirat yang ditempuh ulama-ulama terdahulu yang saleh, yang dindmakan oleh Allah swt. dalam KitabNya dengan Fiqih, Hikmah, Ilmu, Cahaya, Nur, Hidayah dan Petunjuk, maka telah dilipat dari orang banyak dan menjadi hal yang dilupakan.

Manakala hal yang demikian itu menghancurkan Agama dan mendatangkan bahaya yang mengerikan, maka aku berpendapat bahwa berusaha menyusun kitab ini, adalah penting untuk Menghidupkan Kembali Ilmu-ilmu Agama (Ihya Ulumiddin), membukakan jalan yang dilalui imam-imam yang terdahulu dan memberi penjelasan maksud dari ilmu pengetahuan yang berguna, dari nabi- nabi dan ulama-ulama terdahulu yang saleh.


Aku buat dasar kitab ini empat bahagian besar (empat rubu') yaitu:


1.bahagian (rubu') per'ibadatan (rubu' 'ibadah).
2.bahagian (rubu') pekerjaan sehari-hari (rubu'adat kebiasaan).
3.bahagian (rubu') perbuatan yang membinasakan (rubu'al-muhlikat).
4.bahagian (rubu') perbuatan yang menyelamatkan (rubu' al-munjiyat).

Aku mulai sejumlah dengan "kitab ilmu", karena ilmu itu amat penting, untuk pertama-tama aku bentangkan, tentang ilmu, di mana segala orang berbakti kepada Allah dengan menuntutnya, di atas sabda Rasul saw. yang bersabda :

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : طلب العلم فريضة على كل مسلم

(Thalabul 'ilmi fariidlatun 'alaa kulli muslim) Artinya :"Menuntut ilmu itu wajib atas tiap-tiap muslim". (1) Diriwayatkan Ibnu Majah dari Anas Dipandang dla'if oleh AlBaihaqi dan lainnya.

إذ قال صلى الله عليه وسلم : نعوذ بالله من علم لا ينفع

(Na'uudzu billaahi min 'ilmin laa yanfa').
Artinya :"Kita berlindung dengan Allah, dari ilmu yang tidak bermanfa'at". (Diriwayatkan Ibnu Majah dari Jabir dengan isnad baik.)Aku akan buktikan kecenderungaii manusia sekarang, jauh dari bentuk kebenaran. Tertipunya mereka dengan kilatan patamorgana. Dan kepuasan mereka dengan kulit ilmu, tanpa isi.

Bahagian (rubu') ibadah, melengkapisepuluh kitab :

1.Kitab ilmu.
2.Kitab kaidah-kaidah i'tikad (aqidah).
3.Kitab rahasia (hikmah) bersuci.
4.Kitab hikmah shalat.
5.Kitab hikmah zakat.
6.Kitab hikmah shiam(puasa).
7.Kitab hikmah hajji.
8.Kitab adab (kesopanan) membaca Al-Qur'an.
9.Kitab dzikir dan do'a.
10 Kitab tartib wirid pada masing-masing waktunya.



Bahagian (rubu') pekerjaan sehari-hari melengkapi sepuluh kitab :


1.Kitab adab makan.

2.Kitab adab perkawinan.

3.Kitab hukum berusaha (bekerja).

4.Kitab halal dan haram.

5.Kitab adab berteman dan bergaul dengan berbagai golongan manusia.

6.Kitab 'uzlah (mengasingkan diri).

7.Kitab adab bermusafir (berjalan jauh).

8.Kitab mendengar dan merasa.

9.Kitab amar ma'ruf dan nahi mungkar.

10. Kitab adab kehidupan dan budi-pekerti (akhlaq) kenabian.
 


Bahagian (rubu') perbuatan yang membinasakan, melengkapi sepuluh kitab :


1.Kitab menguraikan keajaiban hati.
2.Kitab latihan diri (jiwa).
3.Kitab bahaya hawa nafsu perut dan kemaluan.
4.Kitab bahaya lidah.
5.Kitab bahaya marah, dendam dan dengki.
6.Kitab tercelanya dunia.
7.Kitab tercelanya harta dan kikir.
8.Kitab tercelanya sifat suka kemegahan dan cari muka (ria).
9.Kitab tercelanya sifat takabur dan mengherani diri ('ujub).
10. Kitab tercelanya sifat tertipu dengan kesenangan duniawi.





Bahagian (rubu') perbuatan yang melepaskan, melengkapi sepuluh kitab :


1.Kitab taubat.
2.Kitab sabar dan syukur.
3.Kitab takut dan harap.
4.Kitab fakir dan zuhud.
5.Kitab tauhid dan tawakkal.
6.Kitab cinta kasih , rindu , jinak hati dan rela.
7.Kitab niat, benar dan ikhlas.
8.Kitab muraqabah dan menghitung amalan.
9.Kitab memikirkan hal diri (tafakkur).
10Kitab ingat mati.


Adapun bahagian 'ibadah, maka akan saya terangkan nanti peri adabnya yang mendalam, sunat-sunatnya yang halus-halus dan maksudnya yang penuh hikmah, yang diperlukan oleh orang yang ber- ilmu, yang mengamalkan. Bahkan tidaklah dari ulama akhirat, orang yang tidak memperhatikan kepadanya. Dan yang terbanyak daripadanya, adalah termasuk yang disia-siakan dalam ilmu fiqih.Adapun bahagian pekerjaan sehari-hari, maka akan saya terangkan hikmah pergaulan yang berlaku antara sesama manusia, liku-likunya, sunatnya yang halus-halus dan sifat memelihara diri yang tersembunyi pada tempat-tempat lalunya. Yaitu, yang harus dipunyai oleh orang yang beragama.

Adapun bahagian perbuatan yang membinasakan, maka akan saya terangkan nanti semua budi pekerti yang tercela yang tersebut dalam Al-Qur'an, dengan menghilangkannya membersihkan jiwa dan mensucikan hati daripadanya. Saya akan terangkan masing-masing dari budi pekerti itu, batas dan hakikatnya. Kemudian akan saya sebutkan sebab terjadinya, kemudian bahaya yang timbul dari padanya, kemudian tanda-tanda mengenalinya, kemudian cara mengobatinya supaya terlepas kita dari padanya. Semuanya itu, disertai dengan dalil-dalil ayat, hadits dan kata-kata shahabat Nabi (atsar).

Adapun bahagian perbuatan yang melepaskan, maka akan saya terangkan semua budi pekerti yang terpuji dan keadaan yang disukai, yang menjadi budi pekerti orang-orang muqarrabin dan shiddiqin, yang mendekatkan hamba kepada Tuhan semesta alam. Saya akan terangkan pada tiap-tiap budi pekerti itu, batasnya, hakikatnya, sebab yang membawa tertarik kepadanya, faedah yang dapat diperoleh daripadanya, tanda-tanda untuk mengenalinya dan keutamaan yang membawa kegemaran kepadanya, serta apa yang ada padanya, dari dalil-dalil syari'at dan akal pikiran,

Penulis-penulis lain sudah mengarang beberapa buku mengenai sebahagian dari maksud-maksud tadi. Akan tetapi kitab ini, berbeda dari buku-buku itu dalam lima hal


1.Menguraikan dan menjelaskan apa yang ditulis penulis-penulis lain secara singkat dan umum.
2.Menyusun dan mengatur apa yang dibuat mereka itu berpisah-pisah dan bercerai-berai.
3.Menyingkatkan apa yang dibuat mereka itu berpanjang-panjang dan menentukan apa yang ditetapkan mereka.
4..Membuang apa yang dibuat mereka itu berulang-ulang dan menetapkan dengan kepastian diantara yang diuraikan itu.
5..Memberi kepastian hal-hal yang meragukan yang membawa kepada salah paham, yang tidak disinggung sedikitpun dalam buku-buku yang lain. Karena semuanya, walaupun mereka itu menempuh pada suatu jalan, tetapi tak dapat di bantah, bahwa masing-masing orang salik (orang yang berjalan pada jalan Allah) itu mempunyai perhatian tersendiri, kepada sesuatu hal yang tertentu baginya dan dilupakan teman-temannya. Atau ia tidak lalai dari perhatian itu, akan tetapi lupa dimasukkannya ke dalam buku-bukunya. Atau ia tidak lupa akan tetapi ia dipalingkan oleh sesuatu yang memalingkannya dari pada menyingkapkan yang tertutup daripadanya.Maka inilah keadaan-keadaan khusus bagi kitab ini serta mengandung pula semua ilmu pengetahuan itu.

Sesungguhnya yang membawa aku mendasarkan kitab ini pada empat bahagian (rubu), adalah dua hal :

Pertama :-yaitu pendorong asli—bahwa susunan ini pada menjelaskan hakikat dan pengertian, adalah seperti ilmu dlaruri (ilmu yang mudah, tak memerlukan kepada pemikiran mendalam). Sebab pengetahuan yang menuju ke akhirat itu, terbagi kepada ilmu mu'amalah dan ilmu mukasyafah.

Yang dimaksud dengan ilmu mukasyafah ialah yang diminta mengetahuinya saja. Dan dengan ilmu mu'amalah ialah yang diminta, di samping mengetahuinya, hendaklah diamalkan. Dan yang dimaksudkan dari kitab ini, ialah ilmu mu 'amalah saja, tidak ilmu mukasyafah, yang tidak mudah menyimpannya di buku-buku, meskipun menjadi tujuan maksud para pelajar dan keinginan perhatian orang-orang shiddiqin.

Dan ilmu mu'amalah itu adalah jalan kepada ilmu mukasyafah. Tetapi, para nabi -rahmat Allah kepada mereka tidak memper katakan pada orang banyak, selain mengenai ilmu untuk jalan dan petunjuk kepada ilmu mukasyafah itu.

Adapun ilmu mukasyafah, mereka tidak memperkatakannya selain dengan jalan rumus dan isyarat, yang merupakan contoh dan kesimpulan. Karena para Nabi itu tahu akan singkatnya paham orang banyak untuk dapat memikulnya.

Alim ulama itu adalah pewaris Nabi-nabi. Maka tiada jalan bagi mereka untuk berpaling daripada mengikuti dan mematuhinya.


Kemudian, ilmu mu'amalah itu terbagi kepada :

1- ilmu dhahir, yaitu ilmu, mengenai amal perbuatan anggota badan.
2.-ilmu bathin, yaitu ilmu mengenai amal perbuatan hati dan yang melalui pada anggota badan.


Adakalanya adat kebiasaan dan adakalanya 'ibadah.

Dan yang datang pada hati, yang dengan sebab terdinding dari pancaindra, termasuk bagian alam malakut, adakalanya terpuji dan adakalanya tercela. Maka seharusnyalah, ilmu ini terbagi dua, yaitu : dhahir dan bathin.


Bagian dhahir yang menyangkut dengan anggota badan, terbagi kepada adat kebiasaan dan ibadah. Bagian bathin yang menyangkut dengan hal ihwal hati dan budi pekerti jiwa, terbagi kepada : yang tercela dan yang terpuji. Jadi, semuanya berjumlah empat bahagian. Dan tidaklah kurang perhatian pada ilmu mu'amalah, dari bahagian-bahagian ini.



Pendorong Kedua :
Yang menggerakkan untuk menyusun kitab ini menjadi empat bahagian, ialah aku melihat keinginan para pelajar, besar sekali kepada ilmu fiqih, ilmu yang layak bagi orang yang tidak takut kepada Allah swt., yang memperalat ilmu itu untuk mencari kemegahan dan penonjolan dengan kemegahan serta kedudukan dalam perlombaan. Dan ilmu fiqih itu terdiri dari empat bahagian. Dan orang yang menghiasi dirinya dengan hiasan yang disukai orang banyak, tentu dia akan disukai. Maka aku tidak jauh dalam membentuk kitab ini dengan bentuk fiqih untuk menarik hati golongan pelajar-pelajar. Dan karena inilah, sebahagian orang yang ingin menarik hati pembesar-pembesar kepada ilmu kesehatan, bertindak lemah lembut, lalu membentuknya dalam bentuk ilmu bintang dengan memakai ranji dan angka. Dan menamakannya ilmu taqwim kesehatan, supaya kejinakan hati mereka dengan cara itu menjadi tertarik kepada membacanya.


Berlemah-lembut menarik hati orang kepada ilmu pengetahuan yang berguna dalam kehidupan abadi, adalah lebih penting daripada kelemah-lembutan menariknya kepada ilmu kesehatan, yang faedahnya hanya untuk kesehatan jasmaniyah belaka.


Faedah pengetahuan ini ialah membawa kesehatan kepada hati dan jiwa yang bersambung terus kepada kehidupan abadi. Apalah artinya ilmu kesehatan itu yang hanya dapat mengobati tubuh kasar saja, yang akan hancur binasa dalam waktu yang tidak lama lagi. Kita bermohon kepada Allah swt. akan taufiq bagi petunjuk dan kebenaran. Bahwa Allah Maha Pemurah lagi Maha Pengasih.





تصنيف 


حجة الإسلامالإمام أبي حامد الغزالي 

وهو أبو حامد محمد بن محمد بن محمد الغزالي

الطوسيتغمده الله برحمتهومعه تخريج الحافظ العراقي رحمه الله 


TERJEMAHAN


IHYA ULUMIDDIN BAHASA MELAYU


Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad al-Ghazali




Kitab Ilmu



بسم الله الرحمٰن الرحيم
 كتابالعلم
وهوالكتاب الأول من ربع العبادات
K E L E B I H A N ILMU

Dalil-dalilnya dari Al-Qur'an, ialah firman Allah swt. :
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ
Syahidallaahu annahuu laa ilaaha illaa huwa wal malaaikatu waulul 'ilmi qaaiman bil qis-thi.

Artinya :"Allah mengakui bahawa sesungguhnya Tiada tuhan selaindaripadanya,Dan Malaikat Malaikat Mengakui, Dan Orang orang Berilmu ". S Ali Iimran ayah 18

Maka lihatlah, betapa Allah swt. memulai dengan diriNya sendiri dan menduai dengan malaikat dan menigai dengan ahli ilmu.

Cukuplah kiranya dengan ini, buat kita pertanda kemuliaan,kelebihan, kejelasan, dan ketinggian orang-orang yang berilmu.

Pada ayat lain Allah swt. Berfirman :
يَرْفَعِاللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Yarfa'illaahul ladziina aamanuu minkum wal ladziina uutul 'ilmadarajaat. S. Al Mujaadalah, ayat 11.Artinya :"Diangkat oleh Allah orang-orang yang beriman daripada kamu dan orang-orang yang diberi ilmu dengan beberapa tingkat".S. Al-Mujadalah, ayat 11.

Ibnu Abbas radliallaa.hu'anh ra. diredai Allah dia kiranya mengatakan


"Untuk ulama beberapa tingkat di atas orang mu'min, dengan 700 tingkat tingginya. Antara dua tingkat itu, jaraknya sampai 500 tahun perjalanan".

Pada ayat lain Allah swt. Berfirman :
قُلْهَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ
Qul hal yastawil ladziina ya'lamuuna wal ladziina laa ya'lamuun.S. Az-Zumar, ayat 9.
Artinya :"Katakanlah, Adakah sama antara orang-orang yang berilmu dan orang-orang yang tidak berilmu?". S Az. zumar, ayat 9.


Berfirman Allah swt. :
إِنَّمَايَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
Innamaa yakhsyallaahamin 'ibaadihil ulamaa-u
Artinya :"Sesungguhnya yang takut akan Allah daripada hambaNya ialah ulama ahli ilmu". S. Fathir ayat 28.

Berfirman Allah swt. :
قُلْكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ وَمَنْ عِنْدَهُ عِلْمُ الْكِتَابِ
Qul kafaa billaahi syahiidan bainii wabainakum wain an 'indahuu 'ilmul kitaab.
Artinya :"Katakanlah! Cukuplah Allah menjadi saksi antara aku dan kamu dan orang-orang yang padanya ada pengetahuan tentang Al-Qur'an ". S. Ar-Ra'd, ayat 43.

Pada ayat yang lain tersebut :
قَالَالَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ
Qaalal ladzii 'indahuu 'ilmun minal kitaabi ana aatika bihi
Artinya :"Berkatalah orang yang mempunyai pengetahuan tentang Kitab "Aku sanggup membawanya kepada engkau".S. An-Naml, ayat 40.

Ayat ini memberitahukan bahwa orang itu merasa sanggup karena tenaga pengetahuan yang ada padanya.

Berfirman Allah swt. :
وَقَالَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا
Wa qaalal ladziina uutul 'ilma wailakum tsawaabullaahi khairunliman aamana wa 'amila shaalihaa. S. Al-Qashash, ayat 80.

Artinya :"Berkatalah orang-orang yang berpengetahuan : Malang nasibmu Pahala dari Allah lebih baik untuk orang yang beriman dan mengerjakan perbuatan baik ". S. Al-Qashash, ayat 80.
Ayat ini menjelaskan bahwa tingginya kedudukan di akhirat, diketahui dengan ilmu pengetahuan.

Pada ayat lain tersebut :
وَتِلْكَالأمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلا الْعَالِمُونَ
Wa tilkal amtsaalu nadlribuhaa linnaasi wa maa ya'qiluhaa illal 'aalimuun
Artinya :"Contoh-contoh itu Kami buat untuk manusia dan tidak ada yang mengerti kecuali orang-orang yang berilmu ".S. Al-Ankabut, ayat 43.

Dan firman Allah Swt. :
وَلَوْرَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الأمْرِ مِنْهُمْ
Walau radduuhu ilar rasuuli wa ilaa ulil-amri minhum la'alimahul Ladzin yastanbithuunahuu minhum. An nisaa Ayat 83Artinya :"Kalau mereka kembalikan kepada Rasul dan orang yang berkuasa diantara mereka niscaya orang-orang yang memperhatikan itu akan dapat mengetahui yang sebenarnya".S. An-Nisa', ayat 83.

Ayat ini menerangkan bahwa untuk menentukan hukum dari segala kejadian, adalah terserah kepada pemahaman mereka. Dan dihubungkan tingkat mereka dengan tingkat Nabi-nabi, dalam hal menyingkap hukum Allah.

Dan ada yang menafsirkan tentang firman Allah :
يَابَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى
Yaabanii Aadama qad anzalnaa 'alaikum libaasan yuwaarii sau-aatikum wa riisyan wa libaasut taqwaa. S. Al-A'raaf, ayat 26.Artinya :"Wahai anak Adam Sesungguhnya Kami telah turunkan kepadamu pakaian yang menutupkan anggota kelaminmu dan bulu dan pakaian ketaqwaan". S. Al-A'raf, ayat 26.Dengan tafsiran, bahwa pakaian itu maksudnya ilmu, bulu itu maksudnya yakin dan pakaian ketaqwaan itu maksudnya malu.

Pada ayat lain tersebut :
وَلَقَدْجِئْنَاهُمْ بِكِتَابٍ فَصَّلْنَاهُ عَلَى عِلْمٍ
Walaqad ji'naahum bikitaabin fashshalnaahu 'alaa 'ilmin. S. Al-A'raaf, ayat 52.
Artinya :"Sesungguhnya Kami telah datangkan kitab kepada mereka, Kami jelaskan dengan pengetahuan". S. Al-A'raf, ayat 52.

Pada ayat lain :
فَلَنَقُصَّنَّعَلَيْهِمْ بِعِلْمٍ وَمَا كُنَّا غَائِبِينَ
Falanaqushshanna 'alaihim bi'ilmin. Artinya :" Sesungguhnya akan kami ceritakan kepada mereka menurut pengetahuan".S. Al-A'raf, ayat 7.

Pada ayat lain :
بَلْهُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ
Bal huwa aayaatun bayyinaatun fii shuduuril ladziina uutul 'ilma.S. Al-'Ankabuut, ayat 49.
Artinya :"Bahkan Al-Quran itu adalah bukti-bukti yang jelas di dalam dada mereka yang diberi pengetahuan". S. Al-'Ankabut, ayat 49.

Pada ayat lain :
خَلَقَالإنْسَانَ عَلَّمَهُ الْبَيَانَ
Khalaqal insaana allamahul bayaan.
Artinya :"Tuhan menjadikan manusia dan mengajarkannya berbicara terang'.S. Ar-Rahman, ayat 3-4.Tuhan menerangkan yang demikian pada ayat tadi untuk menyatakan nikmatNya dengan pengajaran itu.

Adapun hadits, maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم saw. Bersabda :
فقالرسول الله صلى الله عليه وسلم: من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين ويلهمه رشده
Man yuridil laahu bihi khairan yufaqqihhu fid diini wa yulhimhu rusydahu.
Artinya :"Barangsiapa dikehendaki Allah akan memperoleh kebaikan, niscaya dianugerahiNya pemahaman dalam agama dan diilhamiNya petunjuk". 1


Nabi saw. bersabda :
وقالصلى الله عليه وسلم: العلماء ورثة الأنبياء
Al-'ulamaa-u waratsatul ambiyaa-i.
Artinya :"Orang berilmu ulama itu adalah pewaris dari Nabi-Nabi". 2

1.Dirawikan Al-Bukhari dan Muslim dari Mu'awlyah.
2.Dirawikan Abu Dawud, Ath-Tirdmidzi dll. dari Abld Darda'.


Dan sudah dimaklumi, bahwa tak ada pangkat di atas pangkat kenabian dan tak ada kemuliaan di atas kemuliaan yang mewarisi pangkat tersebut.

وقالصلى الله عليه وسلم : يستغفر للعالم ما في السموات والأرض

Yastaghfiru lil'aalimi maa fis samaawaati wal ardli.
Artinya :"Isi langit dan isi bumi meminta ampun untuk orang yang berilmu '1

Manakah kedudukan yang melebihi kedudukan orang, di mana para malaikat di langit dan di bumi selalu meminta ampun baginya? Orang itu sibuk dengan urusannya dan para malaikat sibuk pula meminta ampun baginya.

Nabiصلى الله عليه وسلم Bersabda :
إن الحكمة تزيد الشريف شرفا وترفع المملوك حتى يدرك مدارك الملوك
Innal hikmata taziidusy syariifa syarafan wa tarfa'ul mamluuka hattaa yudrika madaarikal muluuki.Artinya :"Bahwa ilmu pengetahuan itu menambahkan mulia orang yang mulia dan meninggikan seorang budak sampai ke tingkat raja-raja'.' 2Dijelaskan oleh hadits ini akan faedahnya di dunia dan sebagai dimaklumi bahwa akhirat itu lebih baik dan kekal.

Nabiصلى الله عليه وسلم Bersabda خصلتانلا يكونان في منافق حسن سمت وفقه في الدين.
Khashlataani laa yakuunaani fri munaafiqin, husnu samtin wa fiqhun fid diin.
Artinya :"Dua perkara tidak dijumpai pada orang munafiq; baik kelakuan dan berpaham agama". 3

1.Ini adalah sebagian dari hadits Abid Darda' di atas.
2.Dirawikan Abu Na'im dll. dari Anas, dengan Isnad dla'lf.
3.Dirawikan Ath-Thurmldzi dari Abu Hurairah, hadits gharib hadits yang aslng isnadnya.


Dan janganlah anda ragu akan hadits ini, karena munafiqnya sebahagian ulama fiqih zaman sekarang. Karena tidaklah dimaksudkan oleh hadits itu akan fiqih yang anda sangkakan. Dan akan diterangkan nanti arti fiqih itu. Sekurang-kurangnya tingkat seorang ahli fiqih tahu ia bahwa akhirat itu lebih baik dari dunia. Dan pengetahuan ini, apabila benar dan banyak padanya, niscaya terlepaslah dia dari sifat nifaq dan ria.

Nabiصلى الله عليه وسلم Bersabda :
أفضلالناس المؤمن العالم الذي إن احتيج إليه نفع وإن استغنى عنه أغنى نفسه
Afdlalun naasil mu'minul 'aalimul ladzii inihtiija ilaihi nafa'a wa inistughniya 'anhu aghnaa nafsah. Artinya : "Manusia yang terbaik ialah mu'min yang berilmu, jika, diperlukan dia berguna. Dan jika tidak diperlukan, maka dia dapat mengurus dirinya sendiri". 1

Nabiصلى الله عليه وسلم Bersabda :
الإيمان عريان ولباسه التقوى وزينته الحياء وثمرته العلم
Al-imaanu uryaanun wa libaasuhut taqwaa wa ziinatuhul hayaa-u wa tsamaratuhul 'ilmu.

Artinya : "Iman itu tidak berpakaian. Pakaiannya ialah taqwa, perhiasannya ialah malu dan buahnya ialah ilmu ". 2

1.Dirawikan AlBaihaqi dari Abid Darda Isnad dlalif
2.Dirawikan AlHakim dari Abid Darda Isnad dla'if. 


Nabiصلى الله عليه وسلم Bersabda :
وقالصلى الله عليه وسلم: أقرب الناس من درجة النبوة أهل العلم والجهاد أما أهل العلم فدلوا الناس على ما جاءت به الرسل وأما أهل الجهاد فجاهدوا بأسيافهم على ما جاءت به الرسل Aqrabun naasi min darajatin nubuwwati ahlul 'ilmi wal jihaadi. Amrtiaa ahlul 'ilmi fadallun naasa 'alaa maa jaa-at bihir rusulu wa ammaa ahlul jihaadi fajaahaduu biasyaafihim 'alaa maa jaa-at bihir rusul.Artinya :"Manusia yang terdekat kepada derajat kenabian ialah orang yang berilmu dan berjihad. Adapun orang yang berilmu, maka memberi petunjuk kepada manusia akan apa yang dibawa Rasul-Rasul. Dan orang yang berjihad, maka berjuang dengan pedang membela apa yang dibawa para Rasul itu ". 1


Nabiصلى الله عليه وسلم Bersabda :
لموت قبيلة أيسر من موت عالم
Lamautu qabiiiatin aisaru min mauti 'aalimin.
Artinya :"Sesungguhnya mati satu suku bangsa, adalah lebih mudah daripada mati seorang yang berilmu''. 2.


Nabiصلى الله عليه وسلم Bersabda :
وقالعليه الصلاة والسلام: الناس معادن كمعادن الذهب والفضة فخيارهم في الجاهلية خيارهم في الإسلام إذا فقهوا
An-naasu ma'aadinu kama-'aadinidz dzahabi wal fidldlati, fakhi- yaaruhum fil jaahiliyyati khiyaaruhum fil islaami idzaa faquhuu.
Artinya :"Manusia itu ibarat barang logam seperti logam emas dan perak. Orang yang baik pada jahiliyah menjadi baik pula pada masa Iislam apabila mereka itu berpaham berilmu". 3


Nabiصلى الله عليه وسلم Bersabda :
وقالصلى الله عليه وسلم : يوزن يوم القيامة مداد العلماء بدم الشهداء
Yuuzanu yaumal qiyaamati midaadul 'ulamaa-i bidamisy syuhadaa'}

Artinya :"Ditimbang pada hari qiamat tinta ulama dengan darah syuhada' orang-orang syahid mempertahankan agama Allah". 4

1.Dirawikan Abu Naim dari Ibnu Abbas, isnad dla'lf.
2.Dirawikan Ath-Thabrani dan Ibnu Abdul-Birri dari Abi-Darda
3.Dirawikan Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Huralrah.
4.Dirawikan Ibnu Abdul-Birri dari Abid-Darda, isanad dla'if. 


Nabiصلى الله عليه وسلم Bersabda :
من حفظ على أمتي أربعين حديثا من السنة حتى يؤديها إليهم كنت له شفيعا وشهيدا يوم القيامة
Man hafidha 'alaa ummatii arba'iina hadiitsan minas sunnati hattaa yuaddiyahaa ilaihim kuiitu lahuu syafii'an wa syahiidan yaumal qiyaamah.Artinya :"Barangsiapa menghafal kepada ummatku empat puluh hadits, sehingga ia menghafalkannya kepada mereka, maka aku memberi syafa'at dan menjadi saksi baginya pada hari qiamat". 1


Nabiصلى الله عليه وسلم Bersabda :
منحمل من أمتي أربعين حديثا لقي الله عز وجل يوم القيامة قيها عالما
Man hamala min ummatii arba'iina hadiitsan laqiallaaha 'azza wa jalla yaumal qiyaamati faqiihan 'aaliman.Artinya :"Barangsiapa dari ummatku menghafal empat puluh hadits, maka dia akan bertemu dengan Allah pada hari qiamat sebagai seorang ahli fiqih yang 'alim". 2

Nabiصلى الله عليه وسلم bersabda :
من تفقه في دين الله عز وجل كفاه الله تعالى ما أهمه ورزقه من حيث لا يحتسب
Man tafaqqaha fii diinillaahi 'azza wa jalla kafaahullaahu ta'aalaa maa ahammahu wa razaqahu min haitsu laa yahtasib. Artinya :" Barangsiapa memahami agama Allah niscaya dicukupkan Allah akan kepentingannya dan diberikanNya rezeqi diluar dugaannya " 3

1.Dirawikan Ibnu AbdulBirri dari Ibnu Umar dan dipandangnya dla'if.
2.Dirawikan Ibnu AbdulBirrI dari Anas dan dipandangnya dla'if.
3.Dirawikan Al-Khatlb dari Abdullah bin Juz'i Az-Zubaidi, dengan Isnad dla'if. 

Bersabda Nabi صلى الله عليه وسلم
أوحى الله عز وجل إلى إبراهيم عليه السلام يا إبراهيم إني عليم أحب كل عليم
Auhallaahu 'azza wa jalla ilaa Ibraahiima'alaihissalaam, yaa Ibraa- hiimu innii 'aliimun uhibbu kulla'aliimin.
Artinya :".Diwahyukan Allah kepada Nabi Ibrahim alahis salam as : Hai Ibrahim Bahwasanya Aku Maha Tahu, menyukai tiap-tiap orang yang tahu berilmu". 1


Bersabda Nabi صلى الله عليه وسلم :ا
العالمأمين الله سبحانه في الأرض
Al-'aalimu amiinullaahi subhaanahu fil ardli.
Artinya :"Orang yang berilmu itu adalah kepercayaan Allah swt. di bumi". 2

Bersabda Nabi صلى الله عليه وسلم:
صنفان من أمتي إذا صلحوا صلح الناس وإذا فسدوا فسد الناس الأمراء والفقهاء
Shinfaani min ummatii idzaa shaluhuu shaluhan naasu wa idzaa fasaduu fasadan naasu, al-umaraa-u wal fuqahaa-u. Artinya :"Dua golongan dari ummatku apabila baik niscaya baiklah manusia semuanya dan apabila rusak niscaya rusaklah manusia seluruhnya yaitu Amir-amir dan ahli-ahli fiqih". 3

1.Hadits ini disebutkan Ibnu AbdulBirrl dengan catatan.2.Dirawikan Ibnu AbdilBirri dari Ma'adz, dengan sanad dla'if.
3.Dirawikan oleh Ibnu Abdil-Birri dan Abu Na'im dari Ibnu Abbas, dengan sanad dla'if
.

Bersabda Nabi صلى الله عليه وسلم :
إذاأتى علي يوم ل أزداد فيه علما يقربني إلى ال عز وجل فل بورك لي في طلوع شمس
ذلكاليوم
Idzaa ataa 'alayya yaumun laa azdaadu fiihi 'ilman yuqarribunii ilaallahi 'azza wa jalla falaa buurika lii fii thuluu'i syamsi dzaalikal yaum. Artinya :"Apabila datanglah kepadaku hari, yang tidak bertambah ilmuku padanya, yang mendekatkan aku kepada Allah, maka tidak diberikan barakah bagiku pada terbit matahari hari itu ". 1

Nabiصلى الله عليه وسلم bersabda : Mengenai kelebihan ilmu dari ibadah dan mati syahid :
وقالصلى الله عليه وسلم: في تفضيل العلم على العبادة والشهادة فضل العالم على العابد كفضلي على أدنى رجل من أصحابي
Fadl-lul 'aalimi 'alal 'aabidi kafadl-lii 'alaa adnaa rajulin min ashhaabii.
Artinya :"Kelebihan orang berilmu dari orang 'abid orang yang banyak ibadahnya seperti kelebihanku dari orang yang paling rendah dari shahabatku ". 2

Lihatlah betapa Nabi saw. membuat perbandingan antara ilmu pengetahuan dan derajat kenabian. Dan bagaimana Nabi mengurangkan tingkat amal ibadah yang tidak dengan ilmu pengetahuan, meskipun orang yang beribadah itu, tidak terlepas dari pengetahuan tentang peribadatan yang selalu dikerjakan. Dan kalau tak adalah ilmu, maka itu bukanlah ibadah namanya.

Nabiصلى الله عليه وسلم Bersabda :
فضل العالم على العابد كفضل القمر ليلة البدر على سائر الكواكب
Fadl-lul 'aalimi 'alal 'aabidi kafadl-lil qamari lailatal badri 'alaa saa-iril kawaakib.
Artinya :"Kelebihan orang berilmu atas orang 'abid, adalah seperti kelebihan bulan malam purnama dari bintang-bintang yang lain".3

1.Dirawikan Ath-Thabrani, Abu Na'im dan Ibnu Abdil-Birri dan A'isyah.
2.Dirawikan At-Tlrmidzi dari Abi Amamah dan katanya : hadits hasan shohih.
3.Dirawikan Abu Dawud. At-Tlrmidzl dll. dari Abld-Darda'.

Nabi صلىالله عليه وسلم Bersabda
وقالصلى الله عليه وسلم: يشفع يوم القيامة ثلاثة الأنبياء ثم العلماء ثم الشهداء
Yasyfa'u yaumal qiyaamati tsalaatsatun : al-ambiyaa-u tsummal Halamaa-u tsummasy syuhadaa-u.

Artinya :"Yang memberi syafa'at pada hari qiamat ialah tiga golongan yaitu: para nabi, kemudian alim ulama dan kemudian para syuhada " 1 Ditinggikan kedudukan ahli ilmu sesudah nabi dan di atas orang syahid, serta apa yang tersebut dalam hadits tentang kelebihan orang syahid.


Nabiصلى الله عليه وسلم bersabda :
ماعبد الله تعالى بشيء أفضل من فقه في الدين ولفقيه واحد أشد على الشيطان من ألف عابد ولكل شيء عماد وعماد هذا الدين الفقه
Maa 'ubidallaahu ta'aalaa bisyai-in afdlala min fiqhin fid diini wa lafaqiihun waahidun asyaddu 'alasy syaithaani min alfi 'aabidin wa likulli syai-in 'imaadun wa 'imaadu haadzad diinil fiqhu. Artinya :"Tiadalah peribadatan sesuatu kepada Allah yang lebih utama dari pada memahami agama. Seorang ahli fiqih adalah lebih sukar bagi syaitan menipunya daripada seribu orang 'abid. Tiap-tiap sesuatu, ada tiangnya. Dan tiang agama itu ialah memahaminya ilmu fiqhi 2


Nabiصلى الله عليه وسلم. bersabda :
وقالرسول الله صلى الله عليه وسلم: خير دينكم أيسره وخير العبادة الفقه
Khairu diinikum aisaruhu wa khairul 'ibaadatil fiqhu.
Artinya :"Yang terbaik dari agamamu ialah yang termudah dan ibadah yang terbaik ialah memahami agama". 3


1.Dirawikan Ibnu Majah dam Utsman bin Affan isnad dla'if.
2.Dirawikan Ath-Thabrani dll. dari Abu Hurairah, isnad dla'if.
3.Dirawikan Ibnu Abdil-Birri dari Anas, sanad dla'if.



Nabiصلى الله عليه وسلم Bersabda
فضلالمؤمن العالم على المؤمن العابد بسبعين درجة
Fadl-lul mu'minil 'aalimi 'alal mu'minil 'aabidi bisab'iina darajatan.
Artinya :"Kelebihan orang mu'min yang berilmu dari orang mu'min yang abid ialah tujuh puluh derajat". 1

Nabiصلى الله عليه وسلم  Bersabda :
إنكمأصبحتم في زمن كثير فقهاؤه قليل قراؤه وخطباؤه قليل سائلوه كثير معطوه العمل فيه خير من العلم وسيأتي على الناس زمان قليل فقهاؤه كثير خطباؤه قليل معطوه كثير سائلوه العلم فيه خير من العمل
Innakum ash bah turn fii zaman in katsiirin fuqahaa-uhu, qaliilin Artinya : "Bahwa kamu berada pada suatu masa yang banyak ahli fiqihnya, sedikit ahli qira'at dan ahli pidato, sedikit orang meminta dan banyak orang memberi. Dan amal pada masa tersebut lebih baik dari pada ilmu. Dan akan datang kepada ummat manusia suatu masa, yang sedikit ahli fiqihnya, banyak ahli pidato, sedikit yang memberi dan banyak yang meminta.Ilmu pada masa itu lebih baik dari amal" 2


Bersabda Nabiصلى الله عليه وسلم .
بين العالم والعابد مائة درجة بين كل درجتين حضر الجواد المضمر سبعين سنة
Bainal 'aalimi wal 'aabidi mi-atu darajatin, baina kulli darajataini hudlrul jawaadil mudlammari sab'iina sanatan. Artinya :"Antara orang 'alim dan orang 'abid seratus derajat jaraknya. Jarak antara dua derajat itu dapat dicapai dalam masa tujuh puluh tahun oleh seekor kuda pacuan ". 3

1.Dirawikan Ibnu 'Uda dari Abi Hurairah Isnad dla'if.
2.Dirawikan Ath-Thabrani dari Hizam bin Hakim, isnad dla'if.
3.Dirawikan Al-Ashfahani dari Ibnu Omar, dengan sanad dla'if.

Orang bertanya kepada Nabiصلى الله عليه وسلم : "Wahai Rasulullah! Amalan apakah yang lebih baik?". Maka Nabi saw. صلىالله عليه وسلم menjawab : العلمبالله عز وجل "Ilmu mengenai Allah 'Azza wa Jalla Maha Mulia dan Maha Besar!".


Bertanya pula orang itu : "Ilmu apa yang engkau kehendaki?". Nabi صلى الله عليه وسلم : menjawab : العلم بالله سبحانه "Ilmu mengenai Allah swt.".

Berkata orang itu lagi : "Kami menanyakan tentang amal, lantas engkau menjawab tentang ilmu".Maka Nabi صلىالله عليه وسلم menjawab :
إن قليل العمل ينفع مع العلم بالله، وإن كثير العمل لا ينفع مع الجهل بالله
"Bahwasanya sedikit amal adalah bermanfa'at dengan disertai ilmu mengenai Allah. Dan bahwasanya banyak amal tidak bermanfa'at bila disertai kebodohan mengenai Allah swt.". 1

Nabiصلى الله عليه وسلم Bersabda :
وقالصلى الله عليه وسلم: يبعث الله سبحانه العباد يوم القيامة ثم يبعث العلماء ثم يقول: يا معشر العلماء، إني لم أضع علمي فيكم إلا لعلمي بكم ولم أضع علمي فيكم لأعذبكم، اذهبوا فقد غفرت لكم
Yab'atsullaahu subhaanahul 'ibaada yaumal qiyaamati, tsumma yab'atsul 'ulamaa-a tsumma yaquulu : Yaa ma'-syaral 'ulamaa-i Innii lam adla' 'ilmii fiikum illaa li'ilmii bikum. Wa lam adla' Artinya :"Allah swt. membangkitkan hamba-hambaNya pada hari qiamat. Kemudian membangkitkan orang-orang 'alim seraya berfirman : "Hai orang 'alim bahwasanya Aku tidak meletakkan ilmuKu padamu selain karena Aku mengetahui tentang kamu. Dan tidak Aku meletakkan ilmuKu padamu untuk memberi adzab kepadamu. Pergilah' Aku telah mengampunkan segala dosamu". 2

Kita bermohon kepada Allah akan husnul-khatimah!.
Adapun atsar kata-kata shahabat Nabi saw. dan pemuka-pemuka Islam lainnya yaitu :
Ali bin Abi Thalib ra. berkata kepada Kumail : "Hai Kumail..................


1.Dirawikan ibnu Abdil-Birri dari Anas, dengan sanad dla'if.
2.Dirawikan Ath-Thabrani dari Abi Musa, dengan sanad dla'if.



Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum hakim dan harta itu terhukum. Harta itu berkurang apabila dibelanjakan dan ilmu itu bertambah dengan dibelanjakan".

Berkata pula Ali ra. : "Orang berilmu lebih utama daripada orang yang selalu berpuasa, bershalat dan berjihad. Apabila mati orang yang berilmu, maka terdapatlah suatu kekosongan dalam Islam yang tidak dapat ditutup selain orang penggantinya".

Berkata pula Ali ra. dengan sajak :
Tidaklah kebanggaan selain bagi ahli ilmu,
Mereka memberi petunjuk kepada orang yang meminta di tunjukkan.
Nilai manusia adalah dengan kebaikan yang dikerjakannya,
Dan orang-orang jahil itu adalah musuh ahli ilmu.
Menanglah engkau dengan ilmu, hiduplah berlama
Orang lain mati, ahli ilmu itu terus hidup.

Berkata Abul-Aswad : "Tidak adalah yang lebih mulia dari ilmu. Raja-raja itu menghukum manusia dan 'alim ulama itu menghukum raja-raja".

Berkata Ibnu Abbas ra. : "Disuruh pilih pada Sulaiman bin Daud as. antara ilmu, harta dan kerajaan, Maka dipilihnya ilmu, lalu dianugerahkanlah kepadanya harta dan kerajaan bersama ilmu itu".

Ditanyakan kepada Ibnul Mubarak : "Siapakah manusia itu?". Maka ia menjawab : "Orang-orang yang berilmu". Lalu ditanyakan pula : "Siapakah raja itu?".

Maka ia menjawab : "Orang yang zuhud  tidak terpengaruh dengan kemewahan dunia '.

Ditanyakan pula : "Siapakah orang hina itu?'.

Maka ia menjawab : " Mereka yang memakan memperoleh dunia dengan agama .

Ibnul Mubarak tidak memasukkan orang tak berilmu dalam golongan manusia. Karena ciri yang membedakan antara manusia dan hewan, ialah ilmu. Maka manusia itu adalah manusia, di mana ia menjadi mulia karena ilmu. Dan tidaklah yang demikian itu disebabkan kekuatan dirinya. Unta adalah lebih kuat daripada manusia. Bukanlah karena besarnya. Gajah lebih besar daripada manusia.

Bukanlah karena beraninya. Binatang buas lebih berani daripada manusia. Bukanlah karena banyak makannya. Perut lembu lebih besar daripada perut manusia. Bukanlah karena kesetubuhannya dengan wanita. Burung pipit yang paling rendah lebih kuat bersetubuh, dibandingkan dengan manusia. Bahkan, manusia itu tidak dijadikan, selain karena ilmu.

Berkata setengah ulama : "Wahai kiranya, barang apakah yang dapat diperoleh oleh orang yang ketiadaan ilmu dan barang apakah yang hilang dari orang yang memperoleh ilmu".

Bersabda Nabi sawصلى الله عليه وسلم . :
منأوتي القرآن فرأى أن أحدا أوتي خيرا منه فقد حقر ما عظم الله تعالى
Man uutiyal Qur-aana fara-aa anna ahadan uutiya khairan minhu faqad haqqara maa 'adhdhamallaahu ta'aalaa. Artinya : Barangsiapa dihadiahkan kepadanya Al-Quran lalu ia memandang ada lain yang lebih baik daripadanya, maka orang itu telah menghinakan apa yang dibesarkan oleh Allah Ta 'ala ".

Bertanya Fathul-Mausuli ra: "Bukankah orang sakit itu apabila tak mau makan dan minum, lalu mati?". Menjawab orang dikelilingnya : "Benar!".

Lalu menyambung Fathul-Mausuli : "Begitu pula hati, apabila tak mau kepada hikmah dan ilmu dalam tiga hari, maka matilah hati itu"

Benarlah perkataan itu, karena sesungguhnya makanan hati itu ialah ilmu dan hikmah. Dengan dua itulah, hidup hati, sebagaimana tubuh itu hidup dengan makanan.

Orang yang tak berilmu, hatinya menjadi sakit dan kematian hatinya itu suatu keharusan. Tetapi, dia tidak menyadari demikian, karena kecintaan dan kesibukannya dengan dunia, menghilangkan perasaan itu, sebagaimana kesangatan takut, kadang-kadang menghilangkan kepedihan luka seketika, meskipun luka itu masih ada.

Apabila mati itu telah menghilangkan kesibukan duniawi, lalu ia merasa dengan kebinasaan dan merugi besar Kemudian, itu tidak bermanfa'at baginya.Yang demikian itu, seperti : dirasakan oleh orang yang telah aman dari ketakutan dan telah sembuh mabuk, dengan luka-luka yang diperolehnya dahulu sewaktu sedang mabuk dan takut.

Kita berlindung dengan Allah dari hari pembukaan apa yang tertutup. Sesungguhnya manusia itu tertidur. Apabila mati, maka dia terbangun. Berkata Al-Hassan ra. : "Ditimbang tinta para ulama dengan darah para syuhada'. Maka beratlah timbangan tinta para ulama itu, dari darah para syuhada' ".

Berkata Ibnu Mas'ud ra : "Haruslah engkau berilmu sebelum ilmu itu diangkat. Diangkat ilmu adalah dengan kematian perawi-perawinya. Demi Tuhan yang jiwaku di dalam kekuasaanNya!. Sesungguhnya orang-orang yang syahid dalam perang sabil, lebih suka dibangkitkan oleh Allah nanti sebagai ulama. Karena melihat kemuliaan ulama itu. Sesungguhnya tak ada seorangpun yang dilahirkan berilmu. Karena ilmu itu adalah dengan belajar".

Berkata Ibnu Abbas ra. : "Bertukar-pikiran tentang ilmu sebahagian dari malam, lebih aku sukai daripada berbuat ibadah di malam itu". Begitu juga menurut Abu Hurairah ra. dan Ahmad bin Hanbal ra.

Berkata Al-Hasan tentang firman Allah Ta'ala :
رَبَّنَاآتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً
Rabbanaa aatinaa fiddun-ya hasanatan wa fil aakhirati hasanatan
Artinya :"Wahai Tuhan kami! Berilah kami kebaikan di dunia ini dan kebaikan pula di hari akhirat". S. Al-Baqarah, ayat 201.

Bahwa kebaikan di dunia itu ialah ilmu dan ibadah, sedang kebaikan di akhirat itu, ialah sorga.
Ditanyakan kepada setengah hukama' para ahli hikmah : "Barang apakah yang dapat disimpan lama?".

Lalu ia menjawab : "Yaitu barang-barang, apabila kapalmu karam, maka dia berenang bersama kamu,

Yakni : ilmu, Dikatakan bahwa yang dimaksud dengan karam kapal ialah binasa badan, dengan mati.

Berkata setengah hukama' : "Barangsiapa membuat ilmu sebagai kekang di mulut kuda, niscaya dia diambil manusia menjadi imam. Dan barangsiapa dikenal dengan hikmahnya, niscaya dia diperhatikan oleh semua mata dengan mulia".

Berkata Imam Asy-Syafi'i ra. : "Diantara kemuliaan ilmu, ialah, bahwa tiap-tiap orang dikatakan berilmu, meskipun dalam soal yang remeh, maka ia gembira. Sebaliknya, apabila dikatakan tidak, maka ia m eras a sedih".

Berkata Umar ra. : "Hai manusia! Haruslah engkau berilmu! Bahwasanya Allah swt. mempunyai selendang yang dikasihiNya. Barangsiapa mencari sebuah pintu dari ilmu, maka ia diselendangi Allah dengan selendangNya. Jika ia berbuat dosa, maka dimintanya kerelaan Allah tiga kali, supaya selendang itu tidak di buka daripadanya dan jika pun berkepanjangan dosanya sampai ia mati".

Berkata Al-Ahnaf ra : "Hampirlah orang berilmu itu dianggap sebagai Tuhan. Dan tiap-tiap kemuliaan yang tidak dikuatkan dengan ilmu, maka kehinaanlah kesudahannya".

Berkata Salim bin Abil-Ja'ad ; "Aku dibeli oleh tuanku dengan arga 300 dirham lalu dimerdekakannya aku. Lalu aku bertanya : "Pekerjaan apakah yang akan aku kerjakan?". Maka bekerjalah aku dalam lapangan ilmu. Tak sampai setahun kemudian, datanglah berkunjung kepadaku amir kota Madinah. Maka tidak aku izinkan, ia masuk".

Berkata Zubair bin Abi Bakar : "Ayahku di Irak menulis surat kepadaku. Isinya diantara Iain, yaitu : "Haruslah engkau berilmu! Karena jika engkau memerlukan kepadanya, maka ia menjadi harta bagimu. Dan jika engkau tidak memerlukan kepadanya, maka ilmu itu menambahkan keelokanmu".

Diceriterakan juga yang demikian dalam nasehat Luqman kepada anaknya.

Berkata Luqman : "Hai anakku! Duduklah bersama ulama ,Rapatlah mereka dengan kedua lututmu! Sesungguhnya Allah swt. menghidupkan hati dengan nur-hikmah sinar ilmu seperti menghidupkan bumi dengan hujan dari langit".


Berkata setengah hukama : "Apabila meninggal seorang ahli ilmu maka ia ditangisi oleh ikan di dalam air dan burung di udara. Wajahnya hilang tetapi sebutannya tidak dilupakan".

Berkata Az-Zuhri : "Ilmu itu jantan dan tidak mencintainya selain oleh laki-laki yang jantan".

56